Penyimpangan Sosial pada LP Kelas 1 Cipinang

6 Feb

1.PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Penelitian Penyimpangan pada masyarakat LP Kelas 1 Cipinang didasari oleh keinginan untuk lebih memahami keadaan yang terjadi disana.dengan lingkungan yang terisolasi dan hanya di huni oleh kaum pria ,Peneliti ingin meneliti hal-hal penyimpangan apa saja yang tejadi disana dan apa yang menyebabkan hal itu terjadi.Dengan kondisi social yang sangat berbeda inilah yang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitaian tersebut.

1.2Fokus Penelitian

Penilitian ini hanya memfoskan pada penyimpangan yang terjadi dan factor-faktor yang memungkinkan terjadinya penyimpangan pada masyarakat LP Cipinang . Tetapi peneliti tidak mengadakan penelitian terhadap pengedaran Narkoba di LP CIpinang karena peneliti berpaendapat bahwa transaksi narkoba dimanapun sama modusnya yaitu dengan sembunyi sembunyi .
2.Metode Penelitian

2.1Sumber & Teknik Pengumpulan Data

Sumber penelitian ini didapat dari kesaksian para mantan narapidana dan sipir LP Cipinang serta beberapa artikel .Sumber-sumber kesaksian para mantan narapidana dan sipir dilakukan dengan teknik wawancara ,tetapi perlakuan pada kedua nara sumber ini berbeda.Untuk wawancara mantan napi dilakukan teknik wawancara terbuka artinya subjek mengetahui bahwa dia dalam proses wawancara .Sedangkan untuk sipir LP dilakukan wawancara terselubung sehingga subjek tidak mengetahiu bahwa dia dalam proses wawancara.Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data secara tepat tanpa ada unsure di tutup-tutupi,sehingga peneliti bias mendapatkan data dengan akurat.

3.Hasil Penelitian

3.1 Gambaran Linkungan LP Cipinang

3.1.1 Kondisi Sosial di LP Cipinang

Baik sebelum maupun sesudah ada gedung baru. LP Cipinang tetap saja penghuninya berjubel (sekitar 4000 orang pada bln Nopember 2006). Setengahnya adalah tahanan titipan dari Kejaksaan maupun Pengadilan. Sisanya adalah narapidana, yang sebagian besar (70%) adalah mereka yang harus menjalani hukuman diatas 1 tahun, 29 % dengan hukuman antara 3 bln dan 1 tahun, sisanya SH dan MT. Mereka menjadi penghuni Cipinang dilatari kejahatan yang bebeda, pencurian, penipuan, perampokan, narkoba, terorisme, pembunuhan, HAM berat, sampai kejahatan ekonomi dan korupsi.

Mereka belum tentu bersalah, ada yang sengaja dijebak atau terjebak, tertangkap atau direkayasa karena keinginan kekuasaan ataupun tidak mempunyai uang.
Penghuni LP Cipinangpun sangat heterogen dilihat dari berbagai sisi. Pendidikan mulai yang buta huruf sampai Doktor atau Guru Besar. Intelektualnya yang sangat berbeda, mungkin dari IQ 90 sampai 140. Perbedaan ketrampilan, status sosial, suku dan lamanya hukuman menjadikan masyarakat LP Cipinang sangat heterogen. Muncul berbagai pengelompokan, yang merupakan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).

3.1.2 Fasilitas

Istilah hotel pordeo bagi LP dasarnya dudah tidak berlaku lagi. Berbagai kebutuhan dasar seperti perlengkapan kamar, makan, kesehatan, media-informasi, pendidikan harus dibiayai sendiri. Gedung baru yang mulai dioperasikan sudah setahun, sudah terkesan kumuh. Pengamatan narapidana, gedung baru dibangun dengan konsep kembali ke penjara atau “boei”, jauh dari upaya pembentukan Lembaga Pemasyarakatan. Kamar yang seyogyanya diisi 3 orang sekarang diisi 7 orang, yang untuk 5 orang diisi sampai 11 orang, dan yang untuk 7 orang diisi diatas 15 orang. Ruangan umum untuk narapidana bisa bersosialisasipun sudah dipadati oleh narapidana.

Fungsi beberapa ruangan lainnyapun sudah keliru sejak awal. Kamar mandi bersama yang dilengkapi sprinkle, sekarang dimanfaatkan menjadi kamar atau dapur (walaupun sebetulnya dapur digedung baru tidak diperkenankan), incinerator untuk sampah belum pernah dioperasikan, demikian juga generator back up berdiri seperti semula.

Sumber dan volume air yang dibangun baru, tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga beberapa buah sumur bor terpaksa sibuat disekeliling bangunan (tentu atas biaya penghuni). Kunjungan yang menjadi faktor penting dalam pemasyarakatan (tidak diasingkan dari masyarakatnya) terutama hubungan keluarga telah menjadi ajang rebutan kekuasaan dan penghasilan

3.1.3 MANAJEMEN

Dari sisi manajemen LP, jumlah staf, pegawai, dan petugas yang sangat terbatas tidak seimbang dengan jumlah narapidana. Struktur kepegawaian yang pincang, terutama kurangnya tenaga lapangan. Tidak memberikan kesempatan berkembang bagi pegawai non AKIP. Pegawai yang mendapatkan pendidikan lanjutan, setelah selesai jarang mendapatkan tempat yang sesuai dengan keahliannya. Sifat dan prilaku organisasi yang otoriter dan militeristik menyebabkan tidak bekembanganya inisiatif dari bawah. Ditambah lagi dengan terbatasnya penghasilan dan tunjangan. Adanya tunjangan pemasyarakatan yang disebut tunjangan fungsional (bukan tunjangan fungsional yang sebenarnya) yang keliru, menyebabkan tidak mungkin berkembangnya jabatan fungsional lainnya (pranata komputer, dll). Saat ini telah ditetapkan juga tunjangan risiko pekerjaan. Tetapi semua ini tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di Jakarta. Banyak keputusan yang bekaitan dengan kewenangan Kalapas, ditarik keatas sampai tingkat Dirjen dan Menteri. Walaupun kelihatannya seperti ada pendelegasian, tetapi yang didelegasikan bukan kewenangan tetapi tugas penanda tanganan.

Anggaran yang dialokasikan untuk operasional sangat terbatas, sehingga selalu diperlukan “partisipasi” narapidana dalam membiayai kegiatan tertentu, temasuk biaya operasional Lapas.

Sampai sekarang (sekurang-kurangnya di LP Cipinang), penilaian terhadap kinerja manajeman LP ditetapkan oleh dua faktor yaitu ketenangan dan keamanan, serta tidak terjadinya pelarian. Faktor-faktor inilah yang menjadi perhatian utama manajeman, dengan mengenyampingkan berbagai peraturan seperti disiplin, pemakaian HP, pemakaian dan peredaran narkoba, menyediakan makanan sendiri dan lain-lain.
Banyaknya “keharusan” narapidana dapat menyediakan kebutuhannya sendiri, karena kemampuan ekonomi yang berbeda, telah menimbulan kesenjangan sosial, yang mengarah kepada terjadinya friksi sosial diantara penghuni. Inilah yang menimbulkan diperlukannya “uang keamanan” atau “uang gaul” diantara kelompok-kelompok narapidana.

Seyogyanya kinerja manajemen LP perlu dinilai dari keberhasilan proses pemasyarakatan itu sendiri. Misalnya jumlah narapidana yang melakukan asimilasi, apakah CMK, PB dan CMB dilaksanakan tepat pada waktunya. Sepengetahuan saya selama 2 tahun terakhir di LP Cipinang tidak ada yang menjalankan asimilasi. Pelaksanaan PB dan CMB molor dari waktunya. Bagi saya sendiri misalnya, pengusulan mendapatkan CMK samasekali tidak ditanggapi, yang berarti ditolak.
Banyak hal lain yang masih dapat diungkapkan berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, bimbingan kerja dan lain lian. Mungkin bisa lebih fokus kita bahas dalam kesempatan lain.

3.2 Penyimpangan Sosial di LP Cipinang

3.2.1 Tawuran
Tawuran yang sering terjadi di LP Cipinang paling banyak disebabkan karena fanatisme etnis yang ada,sehingga Konflik pribadi bisa menjadi konflik kelompok. Bukan rahasia lagi bahwa didalam lingkukan LP diklasifikasikan atas dasar pemisahan suku. Suku yang paling kuat tentu saja suku Jawa, diikuti oleh Batak, Ambon, Sunda, etc.Hal lain yang memegang peran besar adalah kondisi mental narapidana yang sangat labil karena berada dalam lingkngan yang keras dan terisolasi,sehingga menyebabkan narapidana sangat mudah terserang stress.Sehingga tidak jarang hal ini juga sebagai faktor yang menyebabkan tawuran di dalam LP terjadi

Jumlah petugas yang tidak sebanding juga menjadi factor yang menyebabkan tawuran sulit untuk diminilaisir.Hal ini juga diperparah dengan keberpihakan beberapa sipir terhadap enis tertentu.Sehingga pasokan senjata dari luar LP pun sangat sering terjadi,dengan hanya memberikan uang kepada sipir yang bersangkutan.

3.2.2 Porstitusi
Portitusi yang terjadi di LP cipinang adalah bukan hal yang baru.hal ini disebabkan oleh hasrat bioogis narapidana yang sudah menikah yang tidak tersalurkan dalam jangka waktu yang lama.Tempat portitusi ini bias memakai tempat apa saja dan wanita-wanita penghiburnya pun telah tersedia.

Kafetaria adalah tempat yang menjadi tempat “mangkal” wanita-wanita penghibur bagi narapidana.kafe tersebut terletak persis di samping pintu masuk rutan.Wanita tersebut biasanya mendapat jaminan keamanan dari sipir lapas. Para sipir seperti ini biasanya menawarkan jasa pelayanan seks kepada para napi di Rutan salemba. Ia akan mendapat bagian dari Jablay Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per sekali transaksi.

Tarif para wanita yang beroperasi di Rutan Salemba berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, per sekali kencan, tergantung negosiasi. Soal ruangan tempat yang disediakan terdiri dari beberapa kelas. Ada kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Sebab di Rutan itu ada beberapa ruangan yang bisa dijadikan tempat pelepasan hasrat seksual napi. Misalnya di ruang Bagian Hukum dan Pelayanan tahanan (BHPT), ruang penyidikan, atau di ruang meeting sipir. Masing-masing ruangan dilengkapi matras dan kipas angin. Ruangan ini disebut kelas bisnis.

Kalau mau agak mewah dengan fasilitas AC, TV, DVD, dan sofa empuk, ruang tamu Kepala Rutan pun bisa digunakan. Tapi untuk ruangan eksekutif ini hanya bisa digunakan Sabtu dan Minggu. Selain dari itu tidak bisa disewakan

Bila ruang kelas bisnis dan eksekutif dikelola sepenuhnya oleh sipir, sedangkan toilet dikelola oleh napi senior yang disebut tahanan pendamping (tanping). Napi ini bertugas menerima uang sewa dan berjaga di depan toilet. Sebab seluruh toilet pintunya tidak bisa dikunci dari dalam.

Meskipun dikelola napi, uang hasil sewa sebagian besar disetorkan ke sipir. Hitungannya, 70 % untuk sipir dan 30 % dibagi napi yang mengelola, termasuk foreman atau kepala suku. Dalam sehari dan kalau lagi ramai bisa menghasilkan uang Rp3 juta dari tiga toilet yang disewakan

Setiap penjara di Indonesia punya ruang tunggu untuk keluarga yang mengunjungi napi. Ruangan yang diperuntukan untuk temu kangen bagi napi dan keluarganya itu biasanya selalu penuh saat jam besuk. Di tempat itu kerinduan akan tertumpah. Terutama napi yang dikunjungi istri atau pasangannya. Mereka tak sungkan berciuman di depan napi dan para pembesuk.

Tapi bagi napi yang punya banyak uang bisa memilih tempat yang lebih privasi. Tentu saja dengan mengeluarkan sejumlah uang. Di ruang khusus ini, para napi dan pasangannya bisa menyalurkan hasrat biologisnya.

3.2.3 Hubungan Sejenis

. Hubungan mesra (termasuk oral sex) antara narapidana dengan pasangannya tidak dapat dihindarkan, dan terjadi serta dilihat oleh orang sekitarnya, termasuk anak-anak. Dengan dipasangnya kamera monitor diruang kunjungan, semua prilaku narapidana dan pengunjung dapat dilihat oleh para petugas di operation room. Hal ini terjadi karena kunjungan kebutuhan biologis ini tidak diatur, sehingga kekerasan sexual antar sejenis sering terjadi.

Untuk memuaskan hasrat seksnya golongan ini terpaksa melakukan anal seks dengan sesama napi. Lokasi kencannya adalah setiap sudut sepi yang ada di area LP Cipinang. Imbalan anal seks yang dilakukan “anak hilang” dengan sesama napi cukup dengan uang Rp5 ribu rupiah atau dengan mencuci bajunya saja, napi yang menjadi korban pemuas nafsu seks sesama napi adalah yang usianya masih relatif muda, yakni belasan tahun. Napi belia ini selalu menjadi sasaran napi-napi yang dewasa. Mereka selalu dijadikan obyek untuk menuntaskan hasrat seks yang terhambat tersebut.

4.1 Kesimpulan dan Saran

Pada akhirnya penulis berpendapat bahwa kondisi lingkungan yang terisolasilah yang menjadi factor utama segala penyimpangan tersebut.Kondisi yang terisolasi ini yang menjadi pendorong narapidana untuk mengatasi segala “kebutuhannya” dan perlindungan terhadap dirinya walaupun dengan cara yang salah.

Hal-hal yang di tulis dalam laporan hasil penelitian ini hanya merupakan fakta-fakta yang peneliti bias dapatkan ,sehingga kekurangan dari hasil penelitian adalah hal yang mungkin terjadi.Untuk itu besar harapan penulis kepada pembaca untuk memberikan masukan yang membangun untuk melengkapi segala kekurangan dari hasil penelitian ini.Akhir kata penulis mengucapkan terimakasi.

One Response to “Penyimpangan Sosial pada LP Kelas 1 Cipinang”

  1. Hendi July 31, 2008 at 7:46 am #

    bisa bantu koneksiin exnapi wanita kasus narkotika di jakarta buat saya?saya saat ini sedang mengambil skripsi dgn topik penyesuaian diri exnapi wanita kasus narkotika.thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: