Kekuasaan melayu dari jatuhnya Malaka (1511)

26 Nov

Tome Pires mengatakan dari Malaka sampai Kedah adalah daeah Timah, semuanya dulu adalah milik Sultan Mahmud, ketika Sultan Mahmud kalah perang untuk Malaka dia dan putranya melarikan diri melintasi negeri ke pahang. Ia minta bantuan ke Cina untuk melawan Portugis namun Cina tidak bersedia. Karena itu Sultan Mahmud harus mencari tempat baru bagi ibukotanya.

Daerah pertama yang diduduki adalah sayong pinang, namun ternyata daerah ini terlalu jauh dari laut, maka pada tahun 1521 beliau pindah ke pulau bintang (tenggara Singapura). Disana beliau berulang kali diserang Portugis. Pada tahun 1523 dan 1524 beliau berhasil mengalahkan Portugis bahkan mengirim pasukan untuk menduduki Malaka.

Tahun 1526 merupakan serangan balasan dari Portugis menghancurkan ibukota dan menyerang Pulau Bintang. Sultan Mahmud melarikan diri ke Kampar di Sumatera dan beliau mangkat pada tahun 1528. Putranya Ala`ud-in menggantikannya dan mendirikan ibukota di tepi sungai Johore, dan sesaat menjadi duri dalam daging Portugis. Sampai akhirnya pada tahun 1536 Dom Estavao dan Gama memimpin ekspedisi yang memaksanya berdamai dan bertempat tinggal di Muar.

Kakaknya Muzaffar Shah pergi ke Perak dan memerintah disana. Perak , Johor, dan Pahang tetap bersahabat bersyarat dengan Portugis, mereka mengamati ada tanda bahaya luar biasa dari kerajaan Aceh dibawah sultan Ali Mughayat yang telah berhasil menguasai pelabuhan-pelabuhan merica di Pedir dan Pasai serta melakukan perdagangan hingga ke Gujarat dan Cina. dibawah putranya Ala`ud-din R`iayat Shah (1530-1568) Aceh menjadi saingan kuat Portugis di Malaka.

Politik Aceh yang ambisius mengancam bukan saja Malaka tetapi juga Negara-negara Melayu di Sumatera dan Semenanjung. Pada tahun 1537 Portugis melancarkan serangan, dan 1539 armada Aceh merebut Deli di Sumatera. Sebagai balasannya Johor dan Perak serta Negara Sumatera, Siak, melancarkan pukulan atas Aceh. Akibat serangan, Aceh mengalami kemunduran untuk sementara. Tahun 1547 pulih kembali dan melancarkan serangan ke Malaka. Usaha Aceh untuk menguasai dunia Melayu mendapatkan bagian yang besar sebelum mangkatnya Sultan besar kedua, Ala`ud-din R`iayat Shah (1568).

Tahun 1564 armadanya menyerang Johor lama dan membawa seorang tawanan kepada Sultan Ala`Ud-din di Sumatera. Selama beberapa tahun Aceh dan Johor bertikai. Johor berpihak pada Portugis, untuk menyerang Aceh pada tahun 1568. Peperangan besar antara Aceh dan Malaka berlanjut sampai tahun 1575, Aceh menaklukkan Perak, membunuh sultannya, keluarga dari Istana Johor, membawa janda sultan Perak dan anak-anaknya ke Aceh.

Putera mahkota Perak ditawan kawin dengan putri mahkota Aceh, dan tahun 1579 menggantikan Sultan Aceh sebagai Sultan Alauddin Mansyur Shah. Tetapi perkawinan itu tidak memperbaiki hubungan Aceh dan Malaka. Taun 1582 Portugis membantu Sultan Johor mengalahkan serangan Aceh. Tahun 1585 Mansyur Shah dibunuh oleh admiral kapalnya armadanya sendiri.

Tahun 1589 sampai 1604 si pembunuh menjadi Sultan Alauddin Riayat Shah, dalam pemerintahannya Belanda, Perancis, dan Inggris untuk pertama kalinya mengunjungi Aceh. Tahun 1584 Portugis dan Johor mengalami masalah monopoli perdagangan sebagai akibatnya pada tahun 1586 dan tahun 1587 Johor menduduki malaka dan memblokir dari darat dan Laut, Kemudian Portugis bersekutu dengan Aceh, tapi dalam waktu yang sangat singkat.

Peperangan segitiga ini (Portugis, Johor, Aceh) berakhir dengan mengusir Portugis dari malaka. Setelah membunuh Cornelis De Houtman pada 1599 dan menawan saudaranya Frederick. Kedatangan Belanda dan Inggris memberikan pada Johor dan Aceh kesempatan baru untuk menyerang Malaka pada 1606, pada tahun 1607 Iskandar shah naik tahta di Aceh dan meluaskan wilayah hamper ke seluruh Sumatera hingga ke pedalaman Pahang pada 1618. Tahun 1629 pasukan Malaka, Johor, dan Patani melancarkan serangan untuk menghancurkan armada Aceh dekat Malaka. Kekuatan Aceh pun mulai runtuh, dan tahun 1636 Iskandar mangkat digantikan oleh puteranya Iskandar II dan mangkat pada tahun 1641. yaitu, tahun pada saat Belanda merebut Malaka. Kemudian selama 60 tahun Aceh diperintah oleh ratu-ratu.

Tekanan Belanda dan bantuan Johor menyebabkan Aceh kehilangan semua daerahnya di Semenanjung kecuali Perak. Harapan besar Johor mendapatkan Malaka melalui persekutuan dengan Belanda gagal. Belanda memblokir pelabuhan Perak dan Aceh. Dalam tahun 1657 Aceh membalas dengan menghancurkan kantor dagang Belanda di pelabuhan besar Priaman, Tiku, dan Silado di Sumatera. Karena itu Batavia mengirim angkatan laut untuk menyerang pelabuhan dan menguatkan blockade pada Perak dan Aceh.

Aceh mengalami kemerosotan dan pada tahun 1659 utusan Aceh diterima di Batavia oleh Gubernur Joan Maetsuycker dan terjadi perjanjian yang berisi penurunan harga Timah. Aceh mendapatkan sepertiga dan VOC mendapatkan dua pertiga dari ekspor timah Perak. Namun perjanjian ini tidak berpengaruh karena Aceh masih dibawah pemerintahan wanita. Johor dan Pahang telah berhasil mendapatkan kemerdekaan mereka dari Aceh.

Perjanjian mengenai masalah timah pada tahun 1650 tidak memuaskan pihak manapun. sebagai akibat dari serangan Aceh terhadap kantor dagang Belanda di Surat, tahun 1653 sultan Muzaffar dari Perak berjanji mengembalikan perjanjian tahun 1650, membayar ganti rugi dan menghukum pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab atas serangan itu. Tetapi beliau tidak berusaha menjalankan janjinya.

Keruntuhan Aceh berekor pada tidak hanya kehilangan kekuasaan atas Negara-negara di Semenanjung, tetapi juga atas pelabuhan-pelabuhan merica Minangkabau di Sumatera Barat. Tahun 1663 Belanda berhasil dengan perjanjian yang terkenal sebagai kontrak Painan yang ditandatangani oleh sejumlah Sultan-sultan di Pantai Barat yang memberikan VOC monoopoli penuh atas perdagangan merica bersama dengan kebebasan dai pungutan, sebagai imbalan perlindungan itu. Tetapi menjadikan pantai barat Sumatera itu dibawah kekuasaan Belanda.

Penaklukan Malaka oleh Belanda dan keruntuhan Aceh memberikan kesempatan baik pada Abdul JAlil umtuk memperkuat posisi Johare.Tahun 1664 adik beliau kawwin dengan Ratu Patani.Ketakutan Belanda memberinya Jambi dan Aceh sebagai sekutu,Sedangkan lemahnya Aceh membuatnya mampu meluaskan kekuasaan atas pantai timur Sumatra.Tahun 1666 berhubungan dengan pemutusan kontrak perkawinan denganahli warisnya dengan seorang putrid jambi,sebagai hasutann sari orang laksamana Johare yang ambisius,kedua Negara itu meluncur dalam perangna yang kronis,Tahun 1673 Jambi menyereang Batu Sawar,Ibu kota Abdul Jalil dan Sultan Tua melarikan diri ke Pahang ,Dimana 3 tahun kemudian beliau mangkat pada usia 90 tahun.

Sepupu dan penganti beliau ,Ibrahim bertempat tinggal di Riau dari mana perang dijalankan. Tetapi kerajaannya telah terpisah.Beliau memeinta bantuan pemimpin-pemimpin tetara bayaran portugis,Daeng Mangika.Perang berlanjut dan tahun 1682 Ibrahim menulis surat pada gubernur Jenderal Cornelis Speelmen yang menyarankan dihidupkannya kembali persekutuan lama yang dibuat tahun 1603 ketika utusan dikiraim ke pangeran Maurice di Den Haag. Speelman menjawab dengan meminta monopoli perdangangan Johare dan Pahang.

Sebelum sesuatunya dirundingkan Ibrahim mangkat pada tahun 1683 dan Mahmun mengantikannya.Gubernur Malaka segera mengirim utusan untuk meminta monopoli timah yang baru didapat dari Siak.Wakil raja,karena tidak mampu mengawasi orang-orang Minangkabau didaerah itu, menandatangani perjanjian yag enjaminnya sebagai Imbalan adatas perjanjian Belanda menengahi antara Johare dan Jambi.Ketika tahun 1688 Paduka raja diusir dan digantikan oleh perdana menteri baru yang mengambil Sultan yang masih muda dari Riau,kembali tinggal di daratan tahun 1689.

Mahmud berubah menjadi murtad dan sadis dan kekejamannya menyebabkan terbunuhnya beliau tahun 1699.Beliau adalah keturunan terakhir keluarga raja-raja Malaka lama yang memerintah di Johare.Beliau digantikan oleh perdana menteri,Bendahara Sri Maharaja Tun Habib Abdul Jalil.Tetapi perselisihan keluarga menyebabkannya meningglakan masalah-masalah kenegaraan pada saudaranyanya Raja Muda dan kekejamannya terakhir ini mengakibatkan banyak cekcok hingga tahun 1717 Raja Minangkabau di Siak,Raja Kecil,Mengejutkan Johare Lama dan merebut mahkota Abdul jalil diturunkan sekali lagi pada posisis bendahara.

Raja Kecil memerintah daerah-daerah kekuasaan Johare dari Riau tahun 1718 Sultan yang digulingkan bersekongkol dengan Daeng Parani.Komplotan itu gagal dan Abdul Jalil yang telah dijatuhi hukuman mati waktu masih berusaha melarikan diri ke Pahang.Tetapi pada Tahun 1722 Daeng Parani dan pengikut-pengikutnya orang Bugis mengulingkan Raja Kecil dan menempatkan pputra Abdul Jalil pada singasana Sultan.Raja Muda itu memerintah sebagai boneka orang-orang Bugis.

Daeng Parani yang memperkuat keturunan Bugis di Johare tahun 1722.sekarang Riau menjadi pusat pengeruh mereka dari situ mereka pengawasan atas Negara-negara timah,kedah dan perak.Pertikaian Dinasti di Kedah menyebabkan Mereka di Undang untuk membantu seorang Sultan baru melawan saudaranya yang memberontak.Tahun 1724 musuh mereka adalah Raja Kecil,orang Minangkabau itu yang telah diusir dari Riau memimpin Kedah untuk melawan mereka dan selama dua tahun Minangkabau adau Bugis berkelahi untuk memiliki Negara itu.Parang itu mengakibatkan kehancranperdangangan Kedah.Daeng Parani terbunuh tetapi pada akhirnya Bugis berhasil mengusir Raja Kecil kembali ke Siak.

Perjuangan Bugi meluas ke Perak dan Selngor.Daeng Merewah, raja Bawahan Riau memimpin serbuan pada Perak dimana prajurit-prajurit minangkabau dan pemimpin-pemimpin Kedah Berusaha mendapatkan Negeri Tersebut.Slangor telah diserang oleh Putri Raja Kecil dan seorang Murtad pemimpin Bugis,situasi ini dibuat oleh saudara-saudara yang terkenal lainnya. Daeng Celak dengan Raja bonekanya,Sultan Sulaiman mengusir para penyerbu,Raja Luma kemudian dijadikan Sultan di Slangor pertama dalam sejarah.Tahun 1742 beliau memimpin serbuan perak yang lain untuk menegakan kembali kekuasaan Bugis menentang campur tangan Minangkabau selanjutnya.

Banyaknya gelombang tinggi pengaruh dan kegiatan Bugis memberikan tanda bahaya ada Belanda.Usaha mereka yang lama untuk memono[oli Timah Malaya sekarang dalam bahaya yang mendatangkan kesedihaan sebelum terjadinya persaingan pedangang-pedangan Bugis di bawah perlindungan armada perang Riau.Tahun 1745 mereka mulai mendirikan lagi benteng Dinding.Pada waktu itu ada gejala-gejala bahwa orang Melayu sendiri sedang mencari bantuan supaya lepas dari kekuasaan Bugis.Sultan Sulaiman membuat perjanjian dengan Van Imhoff dalam mana beliau memonopoli timah di daerah kekuasaan beliau dan sebagai imbalannya Belanda berjanji membantunya.Begitu kuatnya sikap permusuhan Melayu di Riau hingga Daeng Kemboja yang berkuasa dibalik tahta di Riau,merasa lebih aman untuk memindahkan markas besarnya ke Linggi.

Tahun 1753 suatu pemberontakan istana disana menempatkan sorang raja di singgasana yang memulai perang dagang melawan mereka.karena itu tahun 1755 mereka mengusirnya. Mereka membuat perjanjian baru dengan Sultab Saulaiman yang menjanjikan pada beliau bantuan mendapatkan kembalimiiliknya yang telah lepas dari orang-orang Bugis.Sebagai Imbalannya mengangkat seorang Bupati untuk menjaga kepentingan-kepentingan Belanda di Siak dan memberikan pada perusahaan Monopoli timah Slangor,Klang dan Linggi.Kapal-Kapal Belanda juga bebas tanpa pungutan berdangaang di seluruh kerajaannya.

Sekarang terjadi pernga terbuka antara Belanda Dengan Bugis.Tahun 1756 menyerang Malaka.Dalam membalas dendam Belanda bersama pasukannya Terengganau menyerang kedudukan Bugis di Linggi dan Bugis dikalahkan.Sebagai penyelamat Sultan Sulaiman menyerahkan menanda tangani perjanjian damai dengan Belanda dan memperkuaat Jaminan Sultan tetqang Monopoli Timah

Sekarang kerajaan Johore telah dikalahkan,Slangor adalah Negara merdeka dibawah seseorang Sultan Bugis.Pahang dibawah pimpinan Minangkabau.Di Johare sendiri berkuasa anarki dan Siak hamper jatuh dan précis sebelum mengkatnya tahun 1759 raja bawahannya Sultan Muhammad membantai pasukan garnisun Belanda di pulau Gunung.Karena itu tahun 1761 Belanda mengirim expedisi hukuman yang melantik pilihan mereka sendiri sebagai Sultan .Tahun 1759 segera setelah Mangkatnya sultan Sulaiman pemimpin Bugis, Raja Haji sepupu Daeng Kemboja melancarkan coup d’etat diRiau dan menetapkan kembali pamannya sebagai Sultan Bawahan di Johore.Ketika Sultan sulaiman Mangkat Bugis membunuh penggantinya dan Daeng Kemboja sebagai cucunya yang masih kanak-kanak tetap menjai raja de facto negar tersebut.

Dibawah pemerintahan Daeng Kemboja,perluasan kerajaan Johore sewaktu-waktu tampak sebagai saingan,terutama melalui keberanian militer Raja Haji dan sebagian melauli keterampilannya mempertahankannya mempertahannkan hubungan baik dengan Belanda.Raja Haji memaksa raja-raja Jambi dan Indragiri untuk dating menyatakan kembali pengaruhnya di Sumatra.

Tahun 1771 Francis Light,Kemudian menjadi pendiri Penang,telah mendesak pengusa Madras untuk menjamin kemerdekaan Sultan dan menerima tawarannya sebuah pelabuhan laut sebagi imbalannya.Keruntuhan kekuasaan Belanda adalah sebab utama dari ancaman Bugis pada kemerdekaan Sultan.Jadi Jalan terbuka bagi Raja Haji dan sudaranya di Slangor untk mendapatkan kekuasaan atas Kedah dan bagian yang longgar dari pajak pendapatan.

Tahun 1777,ketika Daeng Kemboja mangkat Raja Haji pergi dan meraih pimpinan penguada dari anak pemimpin yng telah meninggal itu,selam beberapa waktu beliau mengadakan hubungan baik dengan Belanda,tetapi beberapa tahun 1782 mereka bertengkar dan orang Bugis mulai menyerang posisi Belanda di Selat Malaka.Tahun 1783 usaha BElanda merebut Riau dadal karena salah setrategi,karena Sultan Haji mengumpulkan kekuatan paling unggul menduduki Malaka. Juni 1784 Van Bram dengan armadanya yang dikirim dari Holland dalam usaha mengembalikan keuntungan mereka,tiba-tiba menyerang pasukan penduduk dan menghancurkannya sama sekali dan membunuh Raja Haji dalam peristiwa itu.

Bulan Agustus van Braam meneruskan suskes ini dengan mengusir Sultan Bugisnya dari Slangor.KEmnudian bulan Oktober ia mengusir orang-orang Bugis dari Riau dan mendiktekan perjanjian dimana Sultan ,Bendahara dan tumenggung mengakui bahwa pelabuhan dan kerajaan adalah milik Belanda.

Dalam Tahun yang sama Sultan Bugis di Selangot,Ibrahim kembali dan Garnisun Belanda tidak mampu menolak serangannya sehingga megosongkan pelabuhan-pelabuhan mereka dan melarikan diri dari Malaka.Segera beliau di blokir oleh armada BelandaDalam kegagalannya mereka mengharapkan bantuan dari Inggris,beliau menolak kekuatan yang mengepung itu selama satu tahun tetapi akhirnya menerima kekuasaan Belanda. Kedudukan Belanda di Riau mendatangkan tantangan berikutnya Sultan Mahmud telah mencari bantuan dari Ilamun yang ditakutinya di Kalimantan.Bulan Mei 1787 mereka Tiba dan mengusir bukan saja Belanda tetapi juga Sultan sendiri dan pemimpin-pemimpin Melayu.Sulatan yang terusir itu pertama –tama meminta Belanda dan kemudian ke Kapten Francis Light yang dalam tahun sebelumnya telah mengambil penang untuk perusahaan India Timur Inggris.Ketika pembukaan ini gagal beliau membentuk gabungan dengan tujuan mengusir Belanda dan Inggris di perairan Malaya.tetapi setelah beberapa kali gagal maka persekutuan itu bubar danBelanda mendapatkan kemmbali Riau.Ilanun pulang dan rang Bugis pindah ke Selangor,Siatan dan Kalimantan dan orang melayu kembali menjadi perompak

Situasi ini berlangsung sampai tahun 1795,serdadu revolusi prancis membanjiri Holland mdan sebagai hasilnya durat Kew yang dikeluarkan oleh pemerintah pelarian Belanda sehingga Inggris dapat menduduki milik-milk Belanda di Timur.Inggris menetapkan kembali Mahmud dan secara insidensial mengusir garnbisun Belanda dari Riau.Dengan tindakan demikian mereka mengembalikan juga orang-orang bugis yang berkuasa.

Pergolakan di Riau ini konsekwensinya tidaklah kecil,karena pemimpin bugis Raja Haji dengan mengusir raja bawahannya orang melay itu Engku muda memulai perselisihan yang tidak saja menyebabkan banyaknya kesulitan dimata dunia melayu.tetapi Juga memberikan Raffles pada tahun 1819 kesempatan baik untuk mendapatkan pulau singapura.

Perselisiahan antara Engku Muda dan Raja Ali mengakibatkan Negara-negara Melayu yang lain berselisih.Dalam tahun 1800 Sultan Bugis,Ibrahim dari Slangor mencapuri keluarganya.Tahun 1804 beliau menaklukan Perak,mengusir Sultan yng memerintah dan menguasai Negara itu selama dua tahun.tetapi tahun 1806 seorang Sultan baru dari keluarga lama mengantikannya ketika sulaiman mengadakan serangan selanjutnya untuk mendapatkan kembali kekuasaan pertahanan adalah terlalu kuat baginya.

Menjelang akhir abad 18,kecuali Slangor ambisi orang-orang Bugis telah menerima atau akan menerima serentetan penyelidikan yang terutama melalui campur tangan kekuasaan dari luar.Pada Awal abad 18 orang Bugis menjadi faktor penting di pedalaman Malaka dan tetap menguasai Minangkabau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: